skip to main | skip to sidebar

BanjariZ SasirangaN 0821-2233-8370 / 2316FEEE

SOLD OUT GENERASI KEEMPAT

Diposting oleh BanjariZ -























Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Cari Barang Disini

Ruang Konsultasi

Hubungi Kami

Kami BanjariZ Sasirangan
menyediakan kain berkualitas dengan harga yang terjangkau

Posisi kami ada di Banjarmasin, Banjarbaru, Pelaihari, Jakarta, Jakarta Selatan, Bekasi dan Depok

Nomor yang bisa dihubungi :
0821-2233-8370 (SMS dan WA)
2316FEEE (BB)

021-987-654-00 (Hanya Telp)




BanjariZ SasirangaN

BanjariZ SasirangaN

Replika Kapal Gloria 80Cm

Replika Kapal Gloria 80Cm

Replika Kapal Esmeralda 80Cm

Replika Kapal Esmeralda 80Cm

Replika Kapal Dewaruci 80Cm

Replika Kapal Dewaruci 80Cm

Replika Kapal CuttySark 80Cm

Replika Kapal CuttySark 80Cm

Replika Kapal CuttySark 80Cm

Replika Kapal CuttySark 80Cm

Replika Kapal Phinisi 60Cm

Replika Kapal Phinisi 60Cm

Replika Kapal Holler 60Cm

Replika Kapal Holler 60Cm

Replika Kapal Dewaruci 60Cm

Replika Kapal Dewaruci 60Cm

Replika Kapal CuttySark 30Cm

Replika Kapal CuttySark 30Cm

276

276

275

275

274

274

273

273

272

272

271

271

270

270

269

269

268

268

267

267

266

266

265

265

264

264

263

263

262

262

261

261

260

260

259

259

258

258

257

257

256

256

255

255

254

254

253

253

252

252

251

251

250

250

249

249

248

248

247

247

246

246

245

245

244

244

243

243

242

242

241

241

240

240

239

239

238

238

237

237

236

236

235

235

234

234

233

233

232

232

231

231

230

230

229

229

228

228

227

227

226

226

225

225

224

224

223

223

222

222

221

221

220

220

219

219

218

218

217

217

216

216

215

215

214

214

213

213

212

212

211

211

210

210

209

209

208

208

207

207

206

206

205

205

204

204

203

203

202

202

201

201

200

200

199

199

198

198

197

197

196

196

195

195

194

194

193

193

192

192

191

191

190

190

189

189

188

188

187

187

186

186

185

185

184

184

183

183

182

182

181

181

180

180

179

179

178

178

177

177

176

176

175

175

174

174

173

173

172

172

171

171

170

170

169

169

168

168

167

167

166

166

165

165

164

164

163

163

162

162

161

161

160

160

159

159

158

158

157

157

156

156

155

155

154

154

153

153

152

152

151

151

150

150

149

149

148

148

147

147

146

146

145

145

144

144

143

143

142

142

141

141

140

140

139

139

138

138

137

137

136

136

135

135

134

134

133

133

132

132

131

131

130

130

129

129

128

128

127

127

126

126

125

125

124

124

123

123

122

122

121

121

120

120

119

119

118

118

117

117

116

116

115

115

114

114

113

113

112

112

111

111

110

110

109

109

108

108

107

107

106

106

105

105

104

104

103

103

102

102

101

101

100

100

99

99

98

98

97

97

96

96

95

95

94

94

93

93

92

92

91

91

90

90

89

89

88

88

87

87

86

86

85

85

84

84

83

83

82

82

81

81

80

80

79

79

78

78

77

77

76

76

75

75

74

74

73

73

72

72

71

71

70

70

69

69

68

68

67

67

66

66

65

65

64

64

63

63

62

62

61

61

60

60

59

59

58

58

57

57

56

56

55

55

54

54

53

53

52

52

51

51

50

50

49

49

48

48

47

47

46

46

45

45

44

44

43

43

42

42

41

41

40

40

39

39

38

38

37

37

36

36

35

35

34

34

33

33

32

32

32

32

31

31

30

30

29

29

28

28

27

27

26

26

25

25

24

24

23

23

22

22

21

21

20

20

19

19

18

18

17

17

16

16

15

15

14

14

13

13

12

12

11

11

10

10

9

9

8

8

7

7

6

6

5

5

4

4

3

3

2

2

1

1
































Sejarah Sasirangan

AWAL mulanya, Kain Sasirangan merupakan kain yang dipercaya untuk kesembuhan orang-orang yang tertimpa penyakit. Di samping itu, kain khas Banjar ini pun merupakan kain sakral, yang biasa dipakai pada upacara-upacara adat. Baik untuk rakyat, maupun keturunan bangsawannya.

Dahulu, kain sasirangan ini hanya dibentuk menjadi Laung (ikat kepala pria), Kakamban (serudung), Udat (Kemben) dan sarung. Namun, pada perkembangannya, kini kain sasirangan sudah digunakan untuk berbagai hal. Mulai dari pakaian jadi, sampai hiasan-hiasan dinding, payung, kipas, dan hiasan perabotan lainnya.

Motif kain sasirangan, pada dasarnya hampir serupa dengan kain Jumputan atau Teritik dari daerah Jawa. Hanya saja, sasirangan mampunyai motif tradisional dan ciri tersendiri.

Beberapa nama motif sasirangan antara lain motif Banawati, Tali Gapu, Bayam Raja, Kulat Kurikit, Kangkung Kaombakan, Ombak Sinapur Karang, Naga Mendung, Bintang Bahambur, Dara Manginang, Puteri Menangis, dan banyak lagi.

Untuk diketahui, motif-motif yang disebutkan diatas mempunyai arti dan makna tersendiri. Sehingga, dalam pembuatannya, sasirangan seringkali mengikuti kehendak pemesannya. Oleh karena itu, orang Banjar sering kali menyebut Sasirangan sebagai kain Pamintan yang artinya permintaan.

Sekilas Tentang Sasirangan

Jika masyarakat Lampung punya kain Tapis, Jawa punya Batik, Palembang punya Songket, maka masyarakat Kalimantan Selatan punya kain Sasirangan. Kain Sasirangan merupakan kain khas dari daerah Kalimantan Selatan. Kain Sasirangan sudah ada sejak zaman Kerajaan dahulu kala di Kalimantan Selatan, yaitu sekitar abad ke-17. Masyarakat Banjar percaya bahwa kain Sasirangan tidak hanya sebatas pakaian atau kain biasa saja, namun memiliki nilai sakral dan nilai magis yang tinggi. Kata Sasirangan berasal dari kata sirang yang berarti diikat atau dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya atau dalam istilah menjahit disebut dengan dijelujur. Menurut cerita orang tua, dulunya Sasirangan digunakan sebagai pakain yang dipakai dalam upacara-upacara adat atau juga untuk menyembuhkan orang yang sakit.

Menurut cerita rakyat masyarakat Banjar, kain Sasirangan yang pertama dibuat pada masa kerajaan Negara Dipa. Pada mulanya kain Sasirangan disebut dengan kain Langgundi, yaitu kain tenun yang berwarna kuning. Kain Langgundi merupakan kain yang digunakan sebagai bahan untuk membuat pakaian harian seluruh warga kerajaan Negara Dipa. Dikisahkan pada saat itu Patih Lambung Mangkurat sedang bertapa menggunakan lanting untuk mencari seorang raja untuk kerajaan Negara Dipa. Ketika sedang bertapa, Patih Lambung Mangkurat mendengar suara perempuan yang menanyakan maksudnya dan diapun menjelaskan maksud pertapaannya tersebut adalah untuk mencari seorang raja di kerajaanya. Suara perempuan itupun mengatakan bahwa raja yang sedang dicari oleh Patih Lambung Mangkurat itu adalah dirinya, namun perempuan itu mengatakan dia hanya akan menampkkan diri jika Patih Lambung Mangkurat memenuhi permintaanya. Perempuan itu meminta Patih Lambung Mangkurat untuk membuatkannya sebuah istana yang megah yang dibangun oleh 40 orang perjaka dan sehelai kain Langgundi yang ditenun oleh 40 orang perawan, yang keduanya itu harus selesai dalam waktu satu hari. Patih Lambung Mangkurat menyetujuinya dan langsung melaksanakanya.

Pada saat yang telah ditentukan, maka perempuan itu menampakkan diri. Perempuan itu keluar dari dalam air dengan cantiknya dengan menggunakan kain Langgundi yang telah ditenun oleh 40 orang perawan. Perempuan itu disebut oleh warga kerajaan Negara Dipa dengan sebutan Putri Junjung Buih, karena muncul dari dalam air yang beriak/berbuih.

Sejak saat itulah warga kerajaan Negara Dipa tidak berani lagi menggunakan kain Langgundi/Sasirangan karena takut kualat terhadap Putri Junjung Buih. Hal ini mengakibatkan banyak pengrajin kain Langgundi yang tidak lagi membuatnya. Meskipun demikian tidak semuanya berhenti membuat kain Langgundi ini. Masih ada beberapa yang tetap membuatnya, namun tidak untuk dijadikan sebagai pakaian sehari-hari melainkan untuk pengobatan bagi penyakit yang bersifat magis.

Menurut keyakinan masayarakat Banjar yang masih dipengaruhi oleh kepercayaan animisme dan dinamisme, maka banyak penyakit yang disebabkan oleh gangguan makhluk halus dan kain Langgundi/Sasirangan merupakan suatu media untuk penyembuhannya. Biasanya penyakit yang dapat disembuhkan oleh kain Langgundi ini adalah penyakit pingitan, yaitu penyakit yang berasal dari ulah para leluhur yang tinggal di alam roh. Dalam kurun waktu tertentu akan ada anak, cucu, buyut, intah, ataupun yang lain akan terkena penyakit pingitan ini dan untuk penyembuhannya mereka harus mengenakan kain Langgundi. Sebagai media penyembuhan, kain Langgundi bisa digunakan sebagai sarung, kemben, selendang, atau juga ikat kepala (laung). Corak dan warna kain Langgundi sangatlah beragam, karena setiap jenis penyakit pingitan memerlukan corak dan warna kain Langgundi tertentu juga. Sejak digunakan menjadi media pengobatan, maka kain Langgundi lebih dikenal dengan sebutan kain Sasirangan.

Selain kain Langgundi, kain Sasirangan juga disebut dengan kain Pamintan (permintaan) karena dibuat berdasaarkan permintaan. Sebelum adanya pewarana sintetik, kain Sasirangan dulunya menggunakan pewarna alami dari alam, misalnya dari pohon Karamunting, Mengkudu, Akar Kebuau, Gambir, Pinang, dan lain sebagainya. Selain pewarna-pewarana alami tersebut, kain Sasirangan biasanya juga menggunakan beberapa bahan dari alam untuk memperkuat ketahanan warnanya, misalnya seperti jeruk nipis, tawas, kapur, dan lain sebagainya.

Followers

Pages

Popular Posts

  • SOLD OUT GENERASI KEDUA
    Sebelum jalan-jalan melihat produk kami, jika berkenan silahkan kunjungi thread testimonial kami disini   Galeri Lainnya  BANJARIZ ...
  • SOLD OUT GENERASI KETIGA
    ...
  • SOLD OUT GENERASI PERTAMA
    Kepada Reseller / Agen, Harga Grosir updated, Jenis Stok Kain = Sutera Grand A, Sutera Grand B, Semi Sutera, Katun Jepang. Untuk baju = Su...
  • GENERASI KELIMA
    Sebelum jalan-jalan melihat produk kami, jika berkenan silahkan kunjungi thread testimonial kami disini GALERI SOLD OUT KAMI SOLD ...
  • SOLD OUT GENERASI KEEMPAT
 
  • Galeri
  • WarungIjo
  • BlogAdmin
  • LapakNyambi
  • LapakSendiri
CopyKanan DuaRibuSembilan BanjariZ SasirangaN - Powered By BanjariZ